MENJAGA KERUKUNAN HIDUP UMAT BERBEDA AGAMA
Selamat siang saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan
Hari ini saya ingin membagikan artikel mengenai kerukunan
antar agama
Mencermati situasi dan kondisi yang terjadi di dalam masyarakat
belakangan ini, barangkali kita boleh mengatakan bahwa kita seolah-olah kembali
ke zaman pra-peradaban di mana permusuhan dan perang merupakan hal yang lajim.
Melalui media kita tahu, perang antar kampung, antar klan, antar komunitas
sering terjadi. Manusia mudah tersinggung dan terbawa emosi sehingga nekad
melakukan tindakan apa saja termasuk kekerasan terhadap orang lain. Nafsu
menguasai sangat menonjol, keserakahan semakin menjadi-jadi.
Tentu saja kita tidak menghendaki keadaan khaos
terus-menerus terjadi di negeri kita ini. Kita bisa membayangkan bagaimana masa
depan bangsa jika konflik dan permusuhan antar anak bangsa ini terus terjadi.
Kita akan semakin sulit menjadi bangsa yang sejahtera jika kita terus menerus
dikejar-kejar oleh ketakutan dan tidak bebas berkarya di tengah masyarakat.
Para pemimpin bangsa tidak mungkin berkonsentrasi memikirkan kesejahteraan
masyarakat jika terus menerus diancam oleh ketakutan. Mengatasi masalah-masalah
serius akibat bencana alam pun sudah menguras banyak energy. Kekhaosan dan
kerusakan yang diakibatkan kerusuhan menambah beban yang cukup besar. Tetapi
apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya? Apa dan bagaimana kita
memperjuangkan kerukunan di dalam masyarakat majemuk seperti ini? Bagaimana
kita menyikapi sentimen agama yang dapat membayang-bayangi gagalnya perjumpaan
antar umat beragama?
Ditengarai, konflik dan permusuhan antar kelompok dilakukan
atas nama agama. Agama yang seharusnya membawa kesejukan dan kedamaian berubah
menjadi pembawa malapetaka. Oleh sebab itu dibutuhkan gerakan moral dari para
pemimpin masyarakat yang masih sadar tentang bahaya yang sedang mengancam.
Kearifan lokal juga sangat berguna untuk menghadapi arus globalisasi yang
semakin kuat. Kita perlu mempengaruhi masyarakat akar rumput agar tidak mudah
terbawa arus dan tidak mudah diprovokasi. Diperlukan tafsir agama yang memihak
kepada kerukunan dan tafsir yang menghargai kemajukan. Menuju kepada peran
dimaksud, pertemuan umat lintas agama seperti ini sangat penting untuk
memperkaya pengalaman keagamaan kita. Dalam pertemuan lintas agama kita bisa
saling mengenal. Semakin saling mengenal, maka kita semakin akrab, dan jalinan
persahabatan akan terwujud, sentiment agama akan bisa ditinggalkan sehingga
kerukunan dapat dirajut dengan baik.
Pluralisme: bagaimana sikap kita?
Ada kesalah-pahaman tentang arti daripada pluralisme dan ada
kelompok yang menolaknya sebab dianggap sebagai tipu muslihat untuk melakukan
proselitisasi. Kecurigaan seperti itu merupakan salah satu penyebab dari
konflik antar komunitas. Padahal dilihat dari kenyataan, pluralisme merupakan
suatu keniscayaan, tidak seorang pun dapat mengingkarinya. Pluralisme menunjuk
kepada suatu sikap dan pengakuan terhadap kepluralitasan berbagai aspek
kehidupan: agama, suku, budaya, bangsa dan menerima kemajemukan (pluralitas)
sebagai kenicayaan. Pluralisme, bukan sebagai isme (dalam arti ideologi) tetapi
maknanya adalah: pengakuan terhadap kenyataan adanya berbagai agama dan
kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di sekitar kita dan masing-masing
mempunyai ajaran dan kebenarannya sendiri.
Pluralisme bukanlah suatu usaha membandingkan-bandingan,
mempertentangkan apalagi menyatu-nyatukan kebenaran agama-agama yang berbeda.
Kebenaran agama merupakan milik dan keyakinan masing-masing agama dan setiap
penganut agama tidak boleh meremehkan apalagi menghina kebenaran agama lain.
Perlu ditegaskan, pluralisme bukan suatau keyakinan baru dan bukan pula
synkritisme. Mengambil unsur-unsur tertentu dari agama-agama dan kemudian
menggabungkannya menjadi suatu agama baru tidak dapat kita terima sebab itu
menjadi suatu agama gado-gado yang tidak jelas fundasi dan tujuannya.
Dalam sejarah perjumpaan antar umat berbeda agama, paling
tidak ada tiga paradigma, yakni paradigma eksklusivisme, paradigma inklusivisme
dan paradigma pluralisme. Ketiga paradigma itu memiliki kelemahannya
masing-masing. Tetapi para teolog bidang agama-agama mengakui bahwa paradigma
pluralisme jauh lebih maju dari kedua paradigma sebelumnya. Tetapi relativisme
harus dihindarkan sebab jika demikian identitas dari setiap agama akan menjadi
kabur. Pluralisme yang dimaksudkan oleh para teolog ialah: kita menghargai
identitas agama-agama lain, menghargai kepercayaan orang-orang lain secara
jujur dan terbuka tanpa kehilangan identitas dan kepercayaan agama sendiri.
Perjumpaan antar umat beragama dari sudut pandang Kristen.
Secara informal sebenarnya perjumpaan antar umat beragama
telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Setiap hari kita berjumpa dan
bercakap-cakap dengan saudara kita yang berbeda agama, suku, budaya, bahasa dan
bangsa, misalnya di kantor, di pasar dan sebagainya. Kita juga hidup bertetangga
dengan orang-orang yang memiliki latarbelakang yang berbeda-beda itu. Kondisi
seperti ini telah sejak dahulu di tengah-tengah bangsa kita, dan semakin nyata
terlihat di daerah perkotaan.
Kita tidak pernah merencanakan siapa yang tinggal di sebelah
rumah kita. Kita juga tidak mungkin menolak orang-orang yang berbeda iman
bekerja bersama-sama dengan kita di suatu perusahaan atau instansi-instansi
pemerintahan. Orang-orang lain berada bersama-sama dengan kita dan bekerja sama
untuk melakukan suatu tugas tertentu, sebagai atasan, bawahan ataupun mitra
sejajar. Kenyataannya, selama ini duduk bersama di suatu kantor atau tempat
melakukan pekerjaan tertentu tidak pernah dihalangi oleh perbedaan agama.
Setiap orang bekerja menurut kemampuan masing-masing dan saling melengkapi.
Ketika kita belanja di pasar, kita juga tidak pernah
menanyakan agama seseorang (pedagangnya). Kita membutuhkan sesuatu,
berkomunikasi secara wajar, dan mereka pun membutuhkan kita. Dengan kata lain,
dialog informal berlangsung setiap hari di dalam masyarakat tanpa pernah diatur
oleh siapapun. Perbedaan-perbedaan termasuk agama tidak menjadi penghalang bagi
dalam pergaulan, kerja sama dan hubungan social dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi di sisi lain, sulit kita sangkal, konflik
(permusuhan) di dalam masyarakat dengan memperalat isu agama jauh lebih cepat
merebak dibandingkan dengan isu lainnya. Jika agama dipertentangkan atau
dibenturkan, maka keramahtamahan dan relasi yang baik antar pribadi tadi bisa
sirna sekejap dan berganti dengan permusuhan. Sekalipun banyak orang mengatakan
bahwa konflik horizontal yang merebak di berbagai tempat (daerah) di Nusantara
pada akhir abad yang lalu dibakar oleh ketimpangan ekonomi, adanya kecemburuan
terhadap mereka yang lebih berhasil dalam ekonomi, tetapi tidak dapat
disangkal, isu agama membuat api itu semakin besar. Agama yang seharusnya
memberikan ketenangan, mendorong manusia untuk memasuki hubungan yang terdalam
dengan Tuhan dan mengajarkan perdamaian umat manusia, justru menjadi alat
pembakar emosi melakukan tindakan memerangi (bahkan menghancurkan) orang lain
yang tidak seagama.
Ajaran-ajaran agama yang lembut dan penuh kasih itu menjadi
terlupakan, yang muncul adalah luapan kemarahan yang bertentangan dengan ajaran
agama itu. Kerusuhan (bahkan mungkin dapat kita sebut sebagai perang) di
berbagai daerah di Indonesia, pembakaran rumah-rumah ibadah telah menunjukkan
bahwa sentimen agama masih sangat potensial dipergunakan menyulut permusuhan.
Sebenarnya, di samping agama, masyarakat kita memiliki landasan penting dalam
rangka perwujudan kerukunan umat beragama yakni budaya atau adat. Tetapi oleh
sebab kuatnya daya dorong yang diakibatkan oleh sentimen agama, budaya atau
adat itu pun sering tidak mampu bertahan menghadapi hasutan yang datang dari
luar.
Oleh sebab itu, di samping perjumpaan informal yang terjadi
secara otomatis di dalam masyarakat, dialog formal berupa perjumpaan yang
direncanakan masih tetap dibutuhkan dan perlu ditingkatkan serta
disosialisasikan ke tingkat grass root dari masyarakat. Peran dari para pemuka
masyarakat sangat strategis dalam rangka menyebar-luaskan pentingnya pentingnya
dialog antar umat beragama demi mencapai kedamaian bersama. Maka pendalaman
terhadap agama sendiri (teologi agama sendiri) dan pengenalan terhadap agama
lain (teologi agama-agama lain) diharapkan menjadi agenda penting dari semua
pemuka agama.
Perjumpaan formal (dialog formal) umat berbeda agama bukan
perbantah-bantahan tetapi percakapan dalam posisi setingkat. Perjumpaan bukan
polemik yang bersifat apologetis untuk saling mengalahkan tetapi saling
memahami. Oleh sebab itu di dalam perjumpaan itu harus terdapat keterbukaan,
keterusterangan dan kejujuran. Dalam perjumpaan setiap orang bersedia
mengungkapkan apa yang dia ketahui dan yakini dengan sejujur-jujurnya dan
bersedia mendengar keyakinan orang lain. Kejujuran dan keterbukaan dibutuhkan
oleh sebab perjumpaan tidak bertujuan untuk meniadakan perbedaan atau
merelatifkan ajaran agama. Setiap penganut agama harus yakin dengan ajaran
agamanya dan tidak boleh menghina atau merendahkan ajaran agama lainnya.
Memang harus diakui, pelaksanaan perjumpaan umat berbeda
agama itu tidak semudah yang dibayangkan. Ada berbagai hambatan yang dihadapi
dan perlu diatasi. Ada banyak yang menerimanya secara positip dan terbuka tetapi
ada juga yang mencurigainya sebab dianggap mempunyai agenda tersendiri
melakukan proselitisasi kepada penganut agama lain. Namun kita harus
menegaskan, dialog atau perjumpaan yang mengandung muatan proselitisasi akan
macet, tidak akan berhasil dengan baik. Oleh sebab itu tugas dan tanggungjawab
kita bersama-lah menjaga agar perjumpaan antar umat berbeda agama tidak salah
arah.
Bersama-sama menjaga Kerukunan Umat.
Dengan istilah “menjaga” saya memahami bahwa kerukunan itu
bukan merupakan hal yan baru, sudah kita alami bersama sejak lama. Pengertian
rukun bukan hanya sekedar tidak ada perang. Rukun dalam masyarakat berarti
setiap orang merasakan adanya kesamaan atau kesederajatan, ada relasi dan kerja
sama yang baik, saling menjaga serta memperdulikan, saling mendukung. Hal
seperti ini sudah terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Misalnya kita bisa
melihat kenyataan masyarakat di Tapanuli. Dalam suatu pesta setiap anggota
keluarga dan masyarakat kampung itu hadir termasuk keluarga Islam yang ada di tempat
itu. Biasanya yang menyembelih kerbau pada pagi hari untuk kebutuhan pesta itu
adalah Muslim. Di Sipirok, keluarga Muslin dan Kristen bekerja sama membangun
masjid dan gereja. Tetapi oleh karena beberapa factor dan ulah sebagian kecil
orang, belakangan ini kerukunan itu terusik. Dengan perkataan lain, ada
tantangan besar yang harus dihadapi.
