Friday, 30 October 2015

MENJAGA KERUKUNAN HIDUP UMAT BERBEDA AGAMA

MENJAGA KERUKUNAN HIDUP UMAT BERBEDA AGAMA


Selamat siang saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan
Hari ini saya ingin membagikan artikel mengenai kerukunan antar agama


Mencermati situasi dan kondisi yang terjadi di dalam masyarakat belakangan ini, barangkali kita boleh mengatakan bahwa kita seolah-olah kembali ke zaman pra-peradaban di mana permusuhan dan perang merupakan hal yang lajim. Melalui media kita tahu, perang antar kampung, antar klan, antar komunitas sering terjadi. Manusia mudah tersinggung dan terbawa emosi sehingga nekad melakukan tindakan apa saja termasuk kekerasan terhadap orang lain. Nafsu menguasai sangat menonjol, keserakahan semakin menjadi-jadi.
Tentu saja kita tidak menghendaki keadaan khaos terus-menerus terjadi di negeri kita ini. Kita bisa membayangkan bagaimana masa depan bangsa jika konflik dan permusuhan antar anak bangsa ini terus terjadi. Kita akan semakin sulit menjadi bangsa yang sejahtera jika kita terus menerus dikejar-kejar oleh ketakutan dan tidak bebas berkarya di tengah masyarakat. Para pemimpin bangsa tidak mungkin berkonsentrasi memikirkan kesejahteraan masyarakat jika terus menerus diancam oleh ketakutan. Mengatasi masalah-masalah serius akibat bencana alam pun sudah menguras banyak energy. Kekhaosan dan kerusakan yang diakibatkan kerusuhan menambah beban yang cukup besar. Tetapi apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya? Apa dan bagaimana kita memperjuangkan kerukunan di dalam masyarakat majemuk seperti ini? Bagaimana kita menyikapi sentimen agama yang dapat membayang-bayangi gagalnya perjumpaan antar umat beragama?
Ditengarai, konflik dan permusuhan antar kelompok dilakukan atas nama agama. Agama yang seharusnya membawa kesejukan dan kedamaian berubah menjadi pembawa malapetaka. Oleh sebab itu dibutuhkan gerakan moral dari para pemimpin masyarakat yang masih sadar tentang bahaya yang sedang mengancam. Kearifan lokal juga sangat berguna untuk menghadapi arus globalisasi yang semakin kuat. Kita perlu mempengaruhi masyarakat akar rumput agar tidak mudah terbawa arus dan tidak mudah diprovokasi. Diperlukan tafsir agama yang memihak kepada kerukunan dan tafsir yang menghargai kemajukan. Menuju kepada peran dimaksud, pertemuan umat lintas agama seperti ini sangat penting untuk memperkaya pengalaman keagamaan kita. Dalam pertemuan lintas agama kita bisa saling mengenal. Semakin saling mengenal, maka kita semakin akrab, dan jalinan persahabatan akan terwujud, sentiment agama akan bisa ditinggalkan sehingga kerukunan dapat dirajut dengan baik.
Pluralisme: bagaimana sikap kita?

Ada kesalah-pahaman tentang arti daripada pluralisme dan ada kelompok yang menolaknya sebab dianggap sebagai tipu muslihat untuk melakukan proselitisasi. Kecurigaan seperti itu merupakan salah satu penyebab dari konflik antar komunitas. Padahal dilihat dari kenyataan, pluralisme merupakan suatu keniscayaan, tidak seorang pun dapat mengingkarinya. Pluralisme menunjuk kepada suatu sikap dan pengakuan terhadap kepluralitasan berbagai aspek kehidupan: agama, suku, budaya, bangsa dan menerima kemajemukan (pluralitas) sebagai kenicayaan. Pluralisme, bukan sebagai isme (dalam arti ideologi) tetapi maknanya adalah: pengakuan terhadap kenyataan adanya berbagai agama dan kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di sekitar kita dan masing-masing mempunyai ajaran dan kebenarannya sendiri.
Pluralisme bukanlah suatu usaha membandingkan-bandingan, mempertentangkan apalagi menyatu-nyatukan kebenaran agama-agama yang berbeda. Kebenaran agama merupakan milik dan keyakinan masing-masing agama dan setiap penganut agama tidak boleh meremehkan apalagi menghina kebenaran agama lain. Perlu ditegaskan, pluralisme bukan suatau keyakinan baru dan bukan pula synkritisme. Mengambil unsur-unsur tertentu dari agama-agama dan kemudian menggabungkannya menjadi suatu agama baru tidak dapat kita terima sebab itu menjadi suatu agama gado-gado yang tidak jelas fundasi dan tujuannya.
Dalam sejarah perjumpaan antar umat berbeda agama, paling tidak ada tiga paradigma, yakni paradigma eksklusivisme, paradigma inklusivisme dan paradigma pluralisme. Ketiga paradigma itu memiliki kelemahannya masing-masing. Tetapi para teolog bidang agama-agama mengakui bahwa paradigma pluralisme jauh lebih maju dari kedua paradigma sebelumnya. Tetapi relativisme harus dihindarkan sebab jika demikian identitas dari setiap agama akan menjadi kabur. Pluralisme yang dimaksudkan oleh para teolog ialah: kita menghargai identitas agama-agama lain, menghargai kepercayaan orang-orang lain secara jujur dan terbuka tanpa kehilangan identitas dan kepercayaan agama sendiri.


Perjumpaan antar umat beragama dari sudut pandang Kristen.
Secara informal sebenarnya perjumpaan antar umat beragama telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Setiap hari kita berjumpa dan bercakap-cakap dengan saudara kita yang berbeda agama, suku, budaya, bahasa dan bangsa, misalnya di kantor, di pasar dan sebagainya. Kita juga hidup bertetangga dengan orang-orang yang memiliki latarbelakang yang berbeda-beda itu. Kondisi seperti ini telah sejak dahulu di tengah-tengah bangsa kita, dan semakin nyata terlihat di daerah perkotaan.
Kita tidak pernah merencanakan siapa yang tinggal di sebelah rumah kita. Kita juga tidak mungkin menolak orang-orang yang berbeda iman bekerja bersama-sama dengan kita di suatu perusahaan atau instansi-instansi pemerintahan. Orang-orang lain berada bersama-sama dengan kita dan bekerja sama untuk melakukan suatu tugas tertentu, sebagai atasan, bawahan ataupun mitra sejajar. Kenyataannya, selama ini duduk bersama di suatu kantor atau tempat melakukan pekerjaan tertentu tidak pernah dihalangi oleh perbedaan agama. Setiap orang bekerja menurut kemampuan masing-masing dan saling melengkapi.
Ketika kita belanja di pasar, kita juga tidak pernah menanyakan agama seseorang (pedagangnya). Kita membutuhkan sesuatu, berkomunikasi secara wajar, dan mereka pun membutuhkan kita. Dengan kata lain, dialog informal berlangsung setiap hari di dalam masyarakat tanpa pernah diatur oleh siapapun. Perbedaan-perbedaan termasuk agama tidak menjadi penghalang bagi dalam pergaulan, kerja sama dan hubungan social dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi di sisi lain, sulit kita sangkal, konflik (permusuhan) di dalam masyarakat dengan memperalat isu agama jauh lebih cepat merebak dibandingkan dengan isu lainnya. Jika agama dipertentangkan atau dibenturkan, maka keramahtamahan dan relasi yang baik antar pribadi tadi bisa sirna sekejap dan berganti dengan permusuhan. Sekalipun banyak orang mengatakan bahwa konflik horizontal yang merebak di berbagai tempat (daerah) di Nusantara pada akhir abad yang lalu dibakar oleh ketimpangan ekonomi, adanya kecemburuan terhadap mereka yang lebih berhasil dalam ekonomi, tetapi tidak dapat disangkal, isu agama membuat api itu semakin besar. Agama yang seharusnya memberikan ketenangan, mendorong manusia untuk memasuki hubungan yang terdalam dengan Tuhan dan mengajarkan perdamaian umat manusia, justru menjadi alat pembakar emosi melakukan tindakan memerangi (bahkan menghancurkan) orang lain yang tidak seagama.
Ajaran-ajaran agama yang lembut dan penuh kasih itu menjadi terlupakan, yang muncul adalah luapan kemarahan yang bertentangan dengan ajaran agama itu. Kerusuhan (bahkan mungkin dapat kita sebut sebagai perang) di berbagai daerah di Indonesia, pembakaran rumah-rumah ibadah telah menunjukkan bahwa sentimen agama masih sangat potensial dipergunakan menyulut permusuhan. Sebenarnya, di samping agama, masyarakat kita memiliki landasan penting dalam rangka perwujudan kerukunan umat beragama yakni budaya atau adat. Tetapi oleh sebab kuatnya daya dorong yang diakibatkan oleh sentimen agama, budaya atau adat itu pun sering tidak mampu bertahan menghadapi hasutan yang datang dari luar.
Oleh sebab itu, di samping perjumpaan informal yang terjadi secara otomatis di dalam masyarakat, dialog formal berupa perjumpaan yang direncanakan masih tetap dibutuhkan dan perlu ditingkatkan serta disosialisasikan ke tingkat grass root dari masyarakat. Peran dari para pemuka masyarakat sangat strategis dalam rangka menyebar-luaskan pentingnya pentingnya dialog antar umat beragama demi mencapai kedamaian bersama. Maka pendalaman terhadap agama sendiri (teologi agama sendiri) dan pengenalan terhadap agama lain (teologi agama-agama lain) diharapkan menjadi agenda penting dari semua pemuka agama.
Perjumpaan formal (dialog formal) umat berbeda agama bukan perbantah-bantahan tetapi percakapan dalam posisi setingkat. Perjumpaan bukan polemik yang bersifat apologetis untuk saling mengalahkan tetapi saling memahami. Oleh sebab itu di dalam perjumpaan itu harus terdapat keterbukaan, keterusterangan dan kejujuran. Dalam perjumpaan setiap orang bersedia mengungkapkan apa yang dia ketahui dan yakini dengan sejujur-jujurnya dan bersedia mendengar keyakinan orang lain. Kejujuran dan keterbukaan dibutuhkan oleh sebab perjumpaan tidak bertujuan untuk meniadakan perbedaan atau merelatifkan ajaran agama. Setiap penganut agama harus yakin dengan ajaran agamanya dan tidak boleh menghina atau merendahkan ajaran agama lainnya.
Memang harus diakui, pelaksanaan perjumpaan umat berbeda agama itu tidak semudah yang dibayangkan. Ada berbagai hambatan yang dihadapi dan perlu diatasi. Ada banyak yang menerimanya secara positip dan terbuka tetapi ada juga yang mencurigainya sebab dianggap mempunyai agenda tersendiri melakukan proselitisasi kepada penganut agama lain. Namun kita harus menegaskan, dialog atau perjumpaan yang mengandung muatan proselitisasi akan macet, tidak akan berhasil dengan baik. Oleh sebab itu tugas dan tanggungjawab kita bersama-lah menjaga agar perjumpaan antar umat berbeda agama tidak salah arah.
Bersama-sama menjaga Kerukunan Umat.

Dengan istilah “menjaga” saya memahami bahwa kerukunan itu bukan merupakan hal yan baru, sudah kita alami bersama sejak lama. Pengertian rukun bukan hanya sekedar tidak ada perang. Rukun dalam masyarakat berarti setiap orang merasakan adanya kesamaan atau kesederajatan, ada relasi dan kerja sama yang baik, saling menjaga serta memperdulikan, saling mendukung. Hal seperti ini sudah terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Misalnya kita bisa melihat kenyataan masyarakat di Tapanuli. Dalam suatu pesta setiap anggota keluarga dan masyarakat kampung itu hadir termasuk keluarga Islam yang ada di tempat itu. Biasanya yang menyembelih kerbau pada pagi hari untuk kebutuhan pesta itu adalah Muslim. Di Sipirok, keluarga Muslin dan Kristen bekerja sama membangun masjid dan gereja. Tetapi oleh karena beberapa factor dan ulah sebagian kecil orang, belakangan ini kerukunan itu terusik. Dengan perkataan lain, ada tantangan besar yang harus dihadapi.






Hello Kitty Winking Pointer